Bersama Kawan

Bersama Kawan

Selasa, 02 Desember 2014

PSIKOLOGI AGAMA

BAB 1
PENDAHULUAN


Psikologi agama terdiri dari dua suku kata yaitu psikologi dan agama. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu (manusia) dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan agama adalah masalah yang menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia. Jadi psikologi agama diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku makhluk hidup mengenai kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan beragama serta keadaan hidup pada umumnya.
Psikologi agama merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan ilmiah, yaitu pengetahuan yang diperoleh dengan penelitian-penelitian ilmiah. Penelitian tersebut dijalankan secara terencana, sistematis, terkontrol, dan berdasarkan atas data empiris. Dalam makalah ini membahas lebih lanjut mengenai metode-metode yang digunakan dalam penelitian psikologi agama secara detail pada bab pembahasan.




BAB 2
PEMBAHASAN


A.    PENGERTIAN METODE
Didalam kepustakaan, istilah metode mempunyai pengertian yang sama dengan prosedur, tata cara, alat  dan teknik. Pengertian metode atau prosedur lebih menekankan pada usaha untuk mendapatkan, mengembangkan atau menguji pembuktian suatu teori, hepotesis atau dugaan. Sedangkan istilah tata cara, alat atau teknik lebih menekankan pada usaha untuk mendapatkan, atau membuktikan fakta/data. Teknik lebih bersifat operasional, sedangkan metode lebih bersifat teoritis. Dengan demikian teknik atau tata cara merupakan bagian dari metode.[1]

B.     HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Karena agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subyektivitas. Dengan demikian,  agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih  netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka diperlukannya sikap yang obyektif. Oleh sebab itu, dalam penelitian psikologi agama perlu  diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
2.      Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris.
3.      Dalam penelitian harus bersikap filosofis spiritualistis.
4.      Tidak mencampuradukan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali.
5.      Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi  dan metodenya.
6.      Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya.
7.      Menyadari tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama.
8.      Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.[2]

C.     METODE YANG DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Dalam meneliti ilmu jiwa agama menggunakan sejumlah metode, diantaranya adalah:
a.       Dokumen Pribadi (Personal Document)
        Dokumen pribadi adalah metode yang digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Dokumen tersebut bisa berupa autobiografi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya.
        Didasarkan atas pertimbangan bahwa agama merupakan pengalaman batin yang bersifat individuil dikala seseorang merasakan sesuatu yang ghaib, maka dokumen dinilai dapat memberikan informasi yang lengkap. Selai catatan atau tulisan, dapat juga menggunakan daftar pertanyaan kepada orang –orang yang akan diteliti. Jawaban yang diberikan secara bebas memberi kemungkinan kemungkinan bagi responden untuk menyampaikan kesan-kesan batin yang berhubungan dengan agama yang diyakininya. Hal tersebut banyak membantu penelitian yang dilakukan.
        Dalam penerapan metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Diantara yang banyak digunakan adalah:
1.      Teknik Nomotatik
Nomotatik merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dari hubungan antara sikap dan kondisi-kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut. Sedangkan sikap yang nampak sebagai kecenderungan sikap umum itu dinilai sebagai gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap individu yang ada didalamnya.
Nomotatik yang digunakan dalam studi tentang kepribadian adalah untuk mengukur perangkat sifat seperti kejujuran, ketekunan dan kepasrahan sejumlah individu dalam suatu kelompok. Ternyata ditemukan bahwa sifat-sifat itu ada pada setiap individu, namun jadi berbeda oleh hubungan antara sifat itu dengan sikap seseorang. Perbadaan tentang tinggi rendah sifat-sifat dasar itu ditampilkan dalam sikap sangat tergantung dari situasi yang ada. Jadi dapat ditarik suatu ketetapan bahwa sikap individu tergantung dari situasi yang dihadapinya, namun dalam sikap yang ditampilkan terlihat adanya sifat-sifat dasar manusia secara umum.
2.      Teknik Analisis Nilai (Value Analysis)
Teknik ini digunakan dengan analisis  statistik. Teknik statistik digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat dibahas dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta, terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel.
3.      Teknik Idiography
Teknik idiography juga merupakan pendekatan psikologi yang digunakan untuk memahami sifat-sifat dasar (tabiat) manusia. Berbeda dengan nomatik, ideografi lebih dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat dimaksud dengan keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang.
4.      Teknik Penilaian Terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan, atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.

b.      Kuesioner dan Wawancara
        Kuesioner maupun wawancara adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada responden.
        Dalam penerapannya  metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk. Diantara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui:
1.      Pengumpulan Pendapat Masyarakat (Public Opinion Polis)
Teknik ini  merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara. Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai. Data tersebut kemudian dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian.
2.      Skala Penilaian (Rating Scale)
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok, misalnya . dengan adanya penyebab yang khas ini peneliti dapat memahami latar belakang timbulnya perbedaan antarpenganut suatu keyakinan agama.
3.      Tes (Test)
Tes digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis.
4.      Eksperimen
Teknik eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
5.      Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (Sociological and anthropological observation).
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi orang per orang atau kelompok. Selain itu juga menjadikan unsur-unsur budaya yang bersifat materi (benda budaya) dan yang bersifat spiritual (mantera, ritus) yang dinilai ada hubungannya dengan agama.
6.      Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya
Cara ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara, ritus) dengan menggunakan pendekatan psikologi. Melalui pengukuran statistik kemudian  dibuat tolak ukur berdasarkan pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan.
7.      Pendekatan terhadap Perkembangan (Development Approach)
Teknik ini digunakan untuk meneliti mengenai aal-usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianutnya. Cara yang digunakan antara lain melalui pengumpulan dokumen, catatan-catatan, riwayat hidup dan data antropologi.
8.      Metode Klinis dan Proyektivitas (Clinical Method and Projectivity Technique)
Dalam pelaksanaannya metode ini menggunakan cara kerja klinis. Dilakukan dengan cara melaraskan hubungan jiwa dengan agama.
9.      Metode Umum Proyektivitas, berupa penelitian dengan cara menyadarkan sejumlah masalah yang mengandung makna tertentu. Selanjutnya peneliti memperhatikan reaksi yang muncul dari responden. Dengan membiarkan reaksi secara tak sengaja itu, maka pernyataan yang muncul dari reaksi tadi dijadikan dasar penafsiranterhadap gejala yang diteliti. Reaksi merupakan kunci pembuka rahasia.
10.  Apersepsi Nomotatik (Nomothatic  Apperception)
Teknik ini dengan cara menggunakan gambar-gambar yang samar-samar. Melalui gambar-gambar yang diberikan diharapkan mereka yang diteliti dapat mengenal dirinya. Selain dari gambar, khusus untuk anak-anak biasanya diberikan boneka untuk membantu ia mengenal anggota keluarganya. Pemberian gambara atau boneka diharapkan akan membantu orang coba membentuk ide baru yang dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi penelitian.
11.  Studi Kasus (Case Study)
Studi kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus-kasus tertentu. Metode ini dapat digunakan sebagai bahan penyembuhan, menanamkan pengertian, menggambarkan masalah  yang ada hubungannya dengan psikologi, hingga dapat menghasilkan kesimpulan dan penggolongan mengenai kasus-kasus tertentu.
12.  Survei, biasanya digunakan dalam penelitian sosial. Metode ini dapat digunakan untuk tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.

Metode kuesioner dan wawancara dengan berbagai teknik-teknik tersebut, biasanya digunakan untuk tujuan-tujuan seperti:
a.       Untuk mengetahui latar belakang keyakinan agama.
b.      Untuk mengetahui bentuk hubungan manusia dengan Tuhannya.
c.       Dan untuk mengetahui dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi.
Selain dari tujuan tersebut, dalam kaitannya dengan penelitian psikologi agama juga dapat digunakan untuk tujuan-tujuan lain, misalnya:
a.       Untuk kepentingan pembahasan mengenai hubungan antara penyakit mental dengan keyakinan beragama.
b.      Untuk dijadikan bahan guna membentuk kerja sama antara ahlli psikologi dengan ahli agama.
c.       Untuk kepentingan meneliti dan mempelajari kejiwaan para tokoh agama termasuk para pembawa ajaran agama itu sendiri seperti para Nabi.[3]




















BAB 3
KESIMPULAN

Metode-metode yang digunakan dalam penelitian psikologi agama sangat beragam, tergantung pada kepentingan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokument pribadi untuk meneliti pengalaman agama. Adapula yang lebih memilih berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan,  juga menggunakan angket dan wawancara sebagai pelengkap. Dengan banyaknya metode yang mungkin digunakan, terlihat bahwa metode yang dipakai dalam penelitian psikologi agama tidak berbeda dengan metode yang dipakai dalam penelitian ilmiah dalam cabang disiplin ilmu pengetahuan.













DAFTAR PUSTAKA

Ahyadi,Abdul Aziz. 2005. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: penerbit sinar baru algensindo
Jalaluddin. 2000. Psikologi Agama. Jakarta:PT RajaGrafindo persada.









[1] Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Kepribadian Muslim Pancasila Agama, (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo,2005), hlm.31
[2] Jalaludin, Psikologi Agama, Cet. Ke-4(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2000), hlm.34-35
[3] Ibid.hlm.36-43