BAB
1
PENDAHULUAN
Psikologi
agama terdiri dari dua suku kata yaitu psikologi dan agama. Psikologi adalah
ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu (manusia) dalam
interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan agama adalah masalah yang menyangkut
masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia. Jadi psikologi agama
diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku makhluk hidup mengenai kehidupan
beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan
beragama serta keadaan hidup pada umumnya.
Psikologi
agama merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan ilmiah, yaitu pengetahuan
yang diperoleh dengan penelitian-penelitian ilmiah. Penelitian tersebut
dijalankan secara terencana, sistematis, terkontrol, dan berdasarkan atas data
empiris. Dalam makalah ini membahas lebih lanjut mengenai metode-metode yang
digunakan dalam penelitian psikologi agama secara detail pada bab pembahasan.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
METODE
Didalam kepustakaan, istilah metode mempunyai
pengertian yang sama dengan prosedur, tata cara, alat dan teknik. Pengertian metode atau prosedur
lebih menekankan pada usaha untuk mendapatkan, mengembangkan atau menguji
pembuktian suatu teori, hepotesis atau dugaan. Sedangkan istilah tata cara,
alat atau teknik lebih menekankan pada usaha untuk mendapatkan, atau
membuktikan fakta/data. Teknik lebih bersifat operasional, sedangkan metode
lebih bersifat teoritis. Dengan demikian teknik atau tata cara merupakan bagian
dari metode.[1]
B. HAL-HAL
YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Karena agama menyangkut masalah yang
berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit
diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subyektivitas. Dengan
demikian, agar penelitian mengenai agama
dapat dilakukan lebih netral, dalam arti
tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka diperlukannya
sikap yang obyektif. Oleh sebab itu, dalam penelitian psikologi agama
perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Memiliki
kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
2. Memiliki
keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris.
3. Dalam
penelitian harus bersikap filosofis spiritualistis.
4. Tidak
mencampuradukan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali.
5. Mengenal
dengan baik masalah-masalah psikologi
dan metodenya.
6. Memiliki
konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya.
7. Menyadari
tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama.
8. Mampu
menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.[2]
C. METODE
YANG DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Dalam meneliti ilmu jiwa agama
menggunakan sejumlah metode, diantaranya adalah:
a. Dokumen
Pribadi (Personal Document)
Dokumen pribadi adalah metode yang
digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin
seseorang dalam hubungannya dengan agama. Dokumen tersebut bisa berupa
autobiografi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya.
Didasarkan atas pertimbangan bahwa
agama merupakan pengalaman batin yang bersifat individuil dikala seseorang
merasakan sesuatu yang ghaib, maka dokumen dinilai dapat memberikan informasi
yang lengkap. Selai catatan atau tulisan, dapat juga menggunakan daftar
pertanyaan kepada orang –orang yang akan diteliti. Jawaban yang diberikan
secara bebas memberi kemungkinan kemungkinan bagi responden untuk menyampaikan
kesan-kesan batin yang berhubungan dengan agama yang diyakininya. Hal tersebut
banyak membantu penelitian yang dilakukan.
Dalam penerapan metode dokumen pribadi
ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Diantara yang
banyak digunakan adalah:
1. Teknik
Nomotatik
Nomotatik
merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau
sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dari
hubungan antara sikap dan kondisi-kondisi yang dianggap sebagai penyebab
terjadinya sikap tersebut. Sedangkan sikap yang nampak sebagai kecenderungan
sikap umum itu dinilai sebagai gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap
individu yang ada didalamnya.
Nomotatik
yang digunakan dalam studi tentang kepribadian adalah untuk mengukur perangkat
sifat seperti kejujuran, ketekunan dan kepasrahan sejumlah individu dalam suatu
kelompok. Ternyata ditemukan bahwa sifat-sifat itu ada pada setiap individu,
namun jadi berbeda oleh hubungan antara sifat itu dengan sikap seseorang.
Perbadaan tentang tinggi rendah sifat-sifat dasar itu ditampilkan dalam sikap
sangat tergantung dari situasi yang ada. Jadi dapat ditarik suatu ketetapan
bahwa sikap individu tergantung dari situasi yang dihadapinya, namun dalam
sikap yang ditampilkan terlihat adanya sifat-sifat dasar manusia secara umum.
2. Teknik
Analisis Nilai (Value Analysis)
Teknik
ini digunakan dengan analisis statistik.
Teknik statistik digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa ada sejumlah
pengalaman keagamaan yang dapat dibahas dengan menggunakan bantuan ilmu
eksakta, terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel.
3. Teknik
Idiography
Teknik
idiography juga merupakan pendekatan psikologi yang digunakan untuk memahami
sifat-sifat dasar (tabiat) manusia. Berbeda dengan nomatik, ideografi lebih
dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat dimaksud dengan keadaan tertentu
dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing-masing individu dalam
upaya untuk memahami seseorang.
4. Teknik
Penilaian Terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik
ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan, atau dokumen yang
ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen
tersebut kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap
persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman
dan kesadaran agama.
b. Kuesioner
dan Wawancara
Kuesioner maupun wawancara adalah
metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak
dan mendalam secara langsung kepada responden.
Dalam penerapannya metode kuesioner dan wawancara dilakukan
dalam berbagai bentuk. Diantara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan
data melalui:
1. Pengumpulan
Pendapat Masyarakat (Public Opinion Polis)
Teknik
ini merupakan gabungan antara kuesioner
dan wawancara. Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak
ramai. Data tersebut kemudian dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang
sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian.
2. Skala
Penilaian (Rating Scale)
Teknik
ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan
perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok,
misalnya . dengan adanya penyebab yang khas ini peneliti dapat memahami latar
belakang timbulnya perbedaan antarpenganut suatu keyakinan agama.
3. Tes
(Test)
Tes
digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam
kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya
diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis.
4. Eksperimen
Teknik
eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan
seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
5. Observasi
melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (Sociological and anthropological
observation).
Penelitian
dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat
manusiawi orang per orang atau kelompok. Selain itu juga menjadikan unsur-unsur
budaya yang bersifat materi (benda budaya) dan yang bersifat spiritual
(mantera, ritus) yang dinilai ada hubungannya dengan agama.
6. Studi
agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya
Cara
ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara, ritus)
dengan menggunakan pendekatan psikologi. Melalui pengukuran statistik
kemudian dibuat tolak ukur berdasarkan
pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan.
7. Pendekatan
terhadap Perkembangan (Development Approach)
Teknik
ini digunakan untuk meneliti mengenai aal-usul dan perkembangan aspek psikologi
manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianutnya. Cara yang digunakan antara
lain melalui pengumpulan dokumen, catatan-catatan, riwayat hidup dan data
antropologi.
8. Metode
Klinis dan Proyektivitas (Clinical Method and Projectivity Technique)
Dalam
pelaksanaannya metode ini menggunakan cara kerja klinis. Dilakukan dengan cara
melaraskan hubungan jiwa dengan agama.
9. Metode
Umum Proyektivitas, berupa penelitian dengan cara menyadarkan sejumlah masalah
yang mengandung makna tertentu. Selanjutnya peneliti memperhatikan reaksi yang
muncul dari responden. Dengan membiarkan reaksi secara tak sengaja itu, maka
pernyataan yang muncul dari reaksi tadi dijadikan dasar penafsiranterhadap
gejala yang diteliti. Reaksi merupakan kunci pembuka rahasia.
10. Apersepsi
Nomotatik (Nomothatic Apperception)
Teknik
ini dengan cara menggunakan gambar-gambar yang samar-samar. Melalui
gambar-gambar yang diberikan diharapkan mereka yang diteliti dapat mengenal
dirinya. Selain dari gambar, khusus untuk anak-anak biasanya diberikan boneka
untuk membantu ia mengenal anggota keluarganya. Pemberian gambara atau boneka
diharapkan akan membantu orang coba membentuk ide baru yang dapat digunakan
sebagai bahan informasi bagi penelitian.
11. Studi
Kasus (Case Study)
Studi
kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau
lainnya untuk kasus-kasus tertentu. Metode ini dapat digunakan sebagai bahan
penyembuhan, menanamkan pengertian, menggambarkan masalah yang ada hubungannya dengan psikologi, hingga
dapat menghasilkan kesimpulan dan penggolongan mengenai kasus-kasus tertentu.
12. Survei,
biasanya digunakan dalam penelitian sosial. Metode ini dapat digunakan untuk
tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi
dalam masyarakat.
Metode kuesioner dan wawancara dengan
berbagai teknik-teknik tersebut, biasanya digunakan untuk tujuan-tujuan
seperti:
a. Untuk
mengetahui latar belakang keyakinan agama.
b. Untuk
mengetahui bentuk hubungan manusia dengan Tuhannya.
c. Dan
untuk mengetahui dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi.
Selain dari tujuan tersebut, dalam
kaitannya dengan penelitian psikologi agama juga dapat digunakan untuk
tujuan-tujuan lain, misalnya:
a. Untuk
kepentingan pembahasan mengenai hubungan antara penyakit mental dengan
keyakinan beragama.
b. Untuk
dijadikan bahan guna membentuk kerja sama antara ahlli psikologi dengan ahli
agama.
c. Untuk
kepentingan meneliti dan mempelajari kejiwaan para tokoh agama termasuk para
pembawa ajaran agama itu sendiri seperti para Nabi.[3]
BAB
3
KESIMPULAN
Metode-metode
yang digunakan dalam penelitian psikologi agama sangat beragam, tergantung pada
kepentingan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih
memilih dokument pribadi untuk meneliti pengalaman agama. Adapula yang lebih
memilih berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan, juga menggunakan angket dan wawancara sebagai
pelengkap. Dengan banyaknya metode yang mungkin digunakan, terlihat bahwa
metode yang dipakai dalam penelitian psikologi agama tidak berbeda dengan
metode yang dipakai dalam penelitian ilmiah dalam cabang disiplin ilmu
pengetahuan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahyadi,Abdul
Aziz. 2005. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung:
penerbit sinar baru algensindo
Jalaluddin.
2000. Psikologi Agama. Jakarta:PT RajaGrafindo persada.